“Ketika aku berani mengatakan segalanya”
Aku Rubi, mungkin kalian mengira aku seorang perempuan karena
namaku yang biasa diperuntukan untuk kaum Hawa. Kalian salah aku seorang pria,
Rubi adalah nama panggilanku sedangkan nama lengkapku Rubiantara Bumi untuk
kalian yang membacaa mungkin namaku begitu unik dan sangat berat maknanya beda
dari nama anak laki-laki pada umumnya. Orang tuaku berharap Rubiantara Bumi akan
seperti batu Ruby yang berada diantara belahan bumi ini berharga, indah, mahal,
langkah, disukai banyak orang, dicintai banyak orang, dibanggakan semua orang,
dan lainnya seperti batu Ruby.
Rubi berbeda dengan batu Ruby, orang tidak banyak melihat
keberadaanku, aku tidak populer, aku tidak pernah membawa kendaraan mewah saat
berpergian, walaupun mungkin orangtuaku mampu membelikan apa yang aku mau, tapi
aku ingin orang melihatku menjadi diriku sendiri sederhana, apa adanya, dan itu
sangatlah sulit. Termasuk dia yang tidak pernah melihatku.
Dia, wanita yang entah sejak kapan membuatku selalu menatap kearahnya,
membuatku tersenyum sendiri ketika mengingat tingkahnya yang konyol seperti
anak kecil mungkin pengaruh bentuk tubuhnya yang tidak terlalu tinggi salah
satu faktor menjadikannya semakin menarik dimataku. Kami memang tidak terlalu
akrab, karena aku juga yang salah tidak bisa mengakrabkan diri dengannya. Aku tipe
orang yang sangat payah untuk menyukai seseorang, karena sekalinya menyukai
aku akan menjadi makhluk diam seribu bahasa ketika orang yang aku sukai
menghampiri, aku lebih memilih menghindar darinya daripada jantungku lepas jika
selalu berada didekatnya. Kalian pikir ini sangat berlebihan tapi memang begini
adanya, aku tidak sama seperti pria kebanyakan yang untuk berurusan dengan
perasaan sangatlah mudah untuk mengatakan suka terus mendapatkannya menjadi kekasih. Prinsipku menyukai
seseorang cukuplah membuatnya nyaman berada didekat kita tidak perlu harus mengungkapkan
segalanya, tapi disisi lain prinsipku ini salah karena aku seorang pria dan aku
tidak mungkin selamanya memendam perasaan suka dengan seseorang, karenanya lagi
kodrat seorang pria adalah mengejar bukan menunggu begitulah orang yang
disekitarku sering mengatakannya. Aku mengerti maksud mereka, hanya saja aku
yang belum siap untuk mengejar orang yang aku suka saat ini semuanya butuh
waktu.
Waktu juga yang mengakrabkan aku dengan dia hanya sekedar
tegur sapa, senyum, menanyakan hal-hal yang umum, hal yang biasa dibahas orang yang saling berbicara. Dan kalian tau, itu sangat mendebarkan bagiku
terlebih mendapatakan playstation seri terbaru yang dibelikan orangtuaku. Semakin
hari banyak hal yang kami bicarakan tentang apa saja, aku juga melihat dia
mulai terbiasa dengan kehadiranku, terkadang dia meminta bantuan walaupun kecil seperti
menanyakan pelajaran, tetapi itu hal besar untuk sejarah hidupku. Entah kapan
kali terakhir aku merasakan seperti ini, mungkin sudah terlalu lama.
Sikap dia membuatku punya keberanian untuk menunjukkan
perhatian lebih terhadapnya, dan ternyata dia merespon apa yang aku lakukan,
dia tidak menghindar. Semakin jauh kami mengenal, aku berusaha terlihat selalu
baik di setiap kesempatan jika kami bersama walaupun terkadang ada rasa lelah,
tapi aku tidak boleh menyerah ‘sedikit lagi Rubi kamu bisa mendapatkannya’ itu
yang selalu menjadi penyemangatku untuk memperjuangkannya.
Sepertinya waktu mulai menunjukkan kepihakannya padaku, aku
mengumpulkan segala kekuatan untuk mengatakan semua yang aku rasakan padanya. Seperti
biasa ada saja kesempatan untuk kami berbicara berdua, dan disinilah
kesempatanku dan tidak akan aku sia-siakan ‘Ayo Rubi jangan lewatkan kesempatan
ini, mau sampai kapan kamu menunggu waktu yang tepat, kamu harus membuat waktu
itu menjadi tepat’ pikiran itu berteriak selalu. Baiklah aku akan mengatakannya. Dan
akhirnya aku mengungkapkan apa yang selama ini aku rasakan kepadanya semuanya
aku ucapkan dari awal sampai akhir tidak ada satupun yang terlewatkan. Sampai akhirnya,
dia hanya tersenyum mendengar semua perkataan yang aku katakan dengan
perasaan ketar-ketir berharap dia akan menjawab seperti yang aku harapkan. Tapi
sepertinya terlalu cepat menyimpulkan waktu telah berpihak bersamaku, dia hanya
berharap selalu seperti ini saja denganku tidak lebih. Aku hanya membalas
perkataannya dengan senyum, setidaknya aku masih dekat dengannya walaupun tidak
bisa lebih dari teman.
Dengan mengatakan segalanya aku merasa perasaan ini lebih
ringan dari sebelumnya, karena kata orang “katakanlah apa yang mau kau katakan,
jangan menyimpannya terlalu lama” dan itu benar. Harapanku untuk bisa tetap dekat
dengan dia setelah mengatakan segalanya, hanya menjadi anganku kembali karena
dia mulai menghindariku. Bukan menghindar secara drastis, tetapi perlahan,
hanya tersisa sapaan ‘Hai’ dan senyum jika kami berpapasan tidak ada lagi
perbincangan membahas segalanya, tidak ada lagi dia yang akan meminta bantuan
denganku, tidak ada lagi tawa bersama yang sering kami lakukan, dan tidak ada
lagi hanya ‘Hai’ dan senyum. Aku sudah tau akan terjadi seperti ini, jika dia
tidak mempunyai perasaan yang sama denganku, dan aku sudah siap menatapnya lagi
dari jauh atau mencoba melupakannya. Setidaknya dia membuatku berani mengatakan
perasaan, juga mengajarkanku secara tidak langsung berani menghadapi kecewa. Pengalaman
ini jadi pelajaran kedepan untuk membedakan mana yang harus diperjuangkan, mana
yang harus ditinggalkan, dan juga aku belajar untuk tidak menyimpulkan terlalu
cepat sebuah kedekatan.
Rubi sama seperti dengan batu Ruby yang belum diolah menjadi sebuah
batu yang bernilai tinggi dan indah bentuknya untuk dipandang. Rubi masih
terlihat seperti bongkahan batu Ruby yang usang, tertanam diantara Bumi
berbalut tanah dan lumpur belum memancarkan kilaunya. Butuh proses yang panjang
melihatkan Rubi seperti Ruby. Aku sanggup menjalani proses panjang itu dan aku
akan berusaha menemukan bongkahan berlian usang yang mau berjuang bersama
menuju proses kilauan sampai selesai. Hingga aku dan Berlianku nanti sanggup menghadapi
kilaunya dunia ini bersama-sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar