Sabtu, 10 September 2016

Story Time With Rubi : Waktu


“Ketika aku berani mengatakan segalanya”

Aku Rubi, mungkin kalian mengira aku seorang perempuan karena namaku yang biasa diperuntukan untuk kaum Hawa. Kalian salah aku seorang pria, Rubi adalah nama panggilanku sedangkan nama lengkapku Rubiantara Bumi untuk kalian yang membacaa mungkin namaku begitu unik dan sangat berat maknanya beda dari nama anak laki-laki pada umumnya. Orang tuaku berharap Rubiantara Bumi akan seperti batu Ruby yang berada diantara belahan bumi ini berharga, indah, mahal, langkah, disukai banyak orang, dicintai banyak orang, dibanggakan semua orang, dan lainnya seperti batu Ruby.
Rubi berbeda dengan batu Ruby, orang tidak banyak melihat keberadaanku, aku tidak populer, aku tidak pernah membawa kendaraan mewah saat berpergian, walaupun mungkin orangtuaku mampu membelikan apa yang aku mau, tapi aku ingin orang melihatku menjadi diriku sendiri sederhana, apa adanya, dan itu sangatlah sulit. Termasuk dia yang tidak pernah melihatku.
Dia, wanita yang entah sejak kapan membuatku selalu menatap kearahnya, membuatku tersenyum sendiri ketika mengingat tingkahnya yang konyol seperti anak kecil mungkin pengaruh bentuk tubuhnya yang tidak terlalu tinggi salah satu faktor menjadikannya semakin menarik dimataku. Kami memang tidak terlalu akrab, karena aku juga yang salah tidak bisa mengakrabkan diri dengannya. Aku tipe orang yang sangat payah untuk menyukai seseorang, karena sekalinya menyukai aku akan menjadi makhluk diam seribu bahasa ketika orang yang aku sukai menghampiri, aku lebih memilih menghindar darinya daripada jantungku lepas jika selalu berada didekatnya. Kalian pikir ini sangat berlebihan tapi memang begini adanya, aku tidak sama seperti pria kebanyakan yang untuk berurusan dengan perasaan sangatlah mudah untuk mengatakan suka terus mendapatkannya menjadi kekasih. Prinsipku menyukai seseorang cukuplah membuatnya nyaman berada didekat kita tidak perlu harus mengungkapkan segalanya, tapi disisi lain prinsipku ini salah karena aku seorang pria dan aku tidak mungkin selamanya memendam perasaan suka dengan seseorang, karenanya lagi kodrat seorang pria adalah mengejar bukan menunggu begitulah orang yang disekitarku sering mengatakannya. Aku mengerti maksud mereka, hanya saja aku yang belum siap untuk mengejar orang yang aku suka saat ini semuanya butuh waktu.
Waktu juga yang mengakrabkan aku dengan dia hanya sekedar tegur sapa, senyum, menanyakan hal-hal yang umum, hal yang biasa dibahas orang yang saling berbicara. Dan kalian tau, itu sangat mendebarkan bagiku terlebih mendapatakan playstation seri terbaru yang dibelikan orangtuaku. Semakin hari banyak hal yang kami bicarakan tentang apa saja, aku juga melihat dia mulai terbiasa dengan kehadiranku, terkadang dia  meminta bantuan walaupun kecil seperti menanyakan pelajaran, tetapi itu hal besar untuk sejarah hidupku. Entah kapan kali terakhir aku merasakan seperti ini, mungkin sudah terlalu lama.
Sikap dia membuatku punya keberanian untuk menunjukkan perhatian lebih terhadapnya, dan ternyata dia merespon apa yang aku lakukan, dia tidak menghindar. Semakin jauh kami mengenal, aku berusaha terlihat selalu baik di setiap kesempatan jika kami bersama walaupun terkadang ada rasa lelah, tapi aku tidak boleh menyerah ‘sedikit lagi Rubi kamu bisa mendapatkannya’ itu yang selalu menjadi penyemangatku untuk memperjuangkannya.
Sepertinya waktu mulai menunjukkan kepihakannya padaku, aku mengumpulkan segala kekuatan untuk mengatakan semua yang aku rasakan padanya. Seperti biasa ada saja kesempatan untuk kami berbicara berdua, dan disinilah kesempatanku dan tidak akan aku sia-siakan ‘Ayo Rubi jangan lewatkan kesempatan ini, mau sampai kapan kamu menunggu waktu yang tepat, kamu harus membuat waktu itu menjadi tepat’ pikiran itu berteriak selalu. Baiklah aku akan mengatakannya. Dan akhirnya aku mengungkapkan apa yang selama ini aku rasakan kepadanya semuanya aku ucapkan dari awal sampai akhir tidak ada satupun yang terlewatkan. Sampai akhirnya, dia hanya tersenyum mendengar semua perkataan yang aku katakan dengan perasaan ketar-ketir berharap dia akan menjawab seperti yang aku harapkan. Tapi sepertinya terlalu cepat menyimpulkan waktu telah berpihak bersamaku, dia hanya berharap selalu seperti ini saja denganku tidak lebih. Aku hanya membalas perkataannya dengan senyum, setidaknya aku masih dekat dengannya walaupun tidak bisa lebih dari teman.
Dengan mengatakan segalanya aku merasa perasaan ini lebih ringan dari sebelumnya, karena kata orang “katakanlah apa yang mau kau katakan, jangan menyimpannya terlalu lama” dan itu benar. Harapanku untuk bisa tetap dekat dengan dia setelah mengatakan segalanya, hanya menjadi anganku kembali karena dia mulai menghindariku. Bukan menghindar secara drastis, tetapi perlahan, hanya tersisa sapaan ‘Hai’ dan senyum jika kami berpapasan tidak ada lagi perbincangan membahas segalanya, tidak ada lagi dia yang akan meminta bantuan denganku, tidak ada lagi tawa bersama yang sering kami lakukan, dan tidak ada lagi hanya ‘Hai’ dan senyum. Aku sudah tau akan terjadi seperti ini, jika dia tidak mempunyai perasaan yang sama denganku, dan aku sudah siap menatapnya lagi dari jauh atau mencoba melupakannya. Setidaknya dia membuatku berani mengatakan perasaan, juga mengajarkanku secara tidak langsung berani menghadapi kecewa. Pengalaman ini jadi pelajaran kedepan untuk membedakan mana yang harus diperjuangkan, mana yang harus ditinggalkan, dan juga aku belajar untuk tidak menyimpulkan terlalu cepat sebuah kedekatan.
Rubi sama seperti dengan batu Ruby yang belum diolah menjadi sebuah batu yang bernilai tinggi dan indah bentuknya untuk dipandang. Rubi masih terlihat seperti bongkahan batu Ruby yang usang, tertanam diantara Bumi berbalut tanah dan lumpur belum memancarkan kilaunya. Butuh proses yang panjang melihatkan Rubi seperti Ruby. Aku sanggup menjalani proses panjang itu dan aku akan berusaha menemukan bongkahan berlian usang yang mau berjuang bersama menuju proses kilauan sampai selesai. Hingga aku dan Berlianku nanti sanggup menghadapi kilaunya dunia ini bersama-sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar