Minggu, 27 November 2016

Pintu dan Kunci yang Rusak

Dari sekian banyak kisahku menjadi pengagum rahasia seseorang, kisah dengan pengagum inilah yang paling sulit untuk dihadapi antara maju atau aku harus menyerah mengharapkannya. Seakan aku merasakan ketidak sinkronan perasaan dan pikirian disini, entah apa istimewanya dia, dan banyak opini dari orang – orang terdekat untuk melepaskan yang abstrak. Berusaha keras mencoba menganggap dia orang biasa di hati sebenarnya mudah, tapi memikirkan tingkahnya yang manis sulit menganggap dia orang biasa.

Aku tidak boleh begini terus  menjadi pintu dan memiliki kunci yang rusak, menahan seseorang seperti warna abu – abu di dalam lalu menutupnya dan memberikan orang baru kunci yang rusak untuk membuka pintu(hati)ku. Aku juga harus bisa seperti dia si abstrak, tanpa memikirkan aku dia buka pintunya dan membiarkan siapa saja berlalu lalang masuk. Tapi aku bukan dia. Ini sulit.

Pada dasarnya ini kesalahanku kenapa aku menaruhkan begitu besar pengharapan kepada orang sepertinya, belum tentu dia melakukan sebaliknya. Bodoh, iya. Cukup ini yang terakhir, berjuang untuk tidak melebih – lebihkan kebaikan seseorang menjadi istimewa, menganggap kebersamaan sementara menjadi suatu hal berharga. Anggap saja itu sesuatu yang wajar dalam perjalanan hidup sebelum kejelasan itu benar – benar dilihatkan.

Dan untuk saat ini aku harus memperbaiki kunci pintuku yang sengaja aku rusak dengan cepat, membiarkan kamu pergi dengan pilihan impianmu dan aku juga akan berusaha mengikhlaskan itu, walaupun butuh proses (semoga tidak lama). Selanjutnya, aku akan membuka pintu kembali mempersilahkan tamu baruku masuk menerimanya tanpa ada beban bayangan abstrak dirimu. Tapi jika kamu mau bertamu kembali tidak masalah, hanya saja aku tidak akan menguncimu lagi. Karena setelah  kuncinya tidak rusak, akan aku serahkan kepadaNya sang pembolak-balik hati Dialah yang akan menentukan siapa yang menjadi tamu terakhir untukku dan menetap, entah itu orang baru nanti atau mungkin kamu. Tugasku sekarang memperbaiki diri dari sebelumnya, mempelajari kesalahan yang lalu dan menjadikannya motivasi untuk sekarang dan masa depan nanti. Apapun pilihan dariNya aku yakin itu adalah pilihan terbaik untukku.

Keep In My World 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar